Menjawab Tantangan Polisasi Global, PPG UMM Gandeng Deakin University Australia dan Universitas Sanata Dharma dalam Forum Internasional Inklusif

Dalam upaya memperkuat komitmen terhadap pengembangan pendidikan yang inklusif, berkeadilan, dan adaptif terhadap tantangan global, Universitas Muhammadiyah Malang melalui Program Studi Pendidikan Profesi Guru (PPG) menyelenggarakan Seminar Internasional bertajuk “Transformative Inclusion: Realizing Educational Justice in the Era of Global Polarization (5/5/2026).” Kegiatan akademik berskala internasional ini menjadi ruang dialog ilmiah strategis yang mempertemukan para akademisi, praktisi pendidikan, pengambil kebijakan, serta mahasiswa pendidikan profesi guru dari berbagai institusi nasional dan internasional guna mendiskusikan isu-isu kontemporer terkait transformasi pendidikan inklusif di tengah kompleksitas polarisasi global. Seminar ini merupakan hasil kolaborasi antara Univestitas Muhammadiyah Malang, Universitas Sanata Dharma, dan Deakin University sebagai bagian dari penguatan jejaring akademik internasional dalam bidang pendidikan guru. Kegiatan seminar diawali dengan laporan ketua panitia yang disampaikan oleh Prof. Dr. Sugiarti, M.Si., yang menegaskan bahwa seminar ini merupakan respons akademik atas tantangan pendidikan global yang semakin kompleks, terutama terkait kesenjangan akses pendidikan, dinamika sosial akibat polarisasi global, dan kebutuhan mendesak akan sistem pendidikan yang lebih inklusif serta transformatif. Menurutnya, seminar ini memiliki tiga tujuan utama, yaitu membedah konsep inklusi transformatif sebagai solusi atas ketimpangan akses pendidikan, menemukan titik temu di tengah polarisasi global agar pendidikan tetap menjadi ruang netral dan humanis, serta membangun jejaring kolaboratif lintas negara antara akademisi, praktisi, dan pengambil keputusan dalam bidang pendidikan. Kehadiran lebih dari 700 peserta secara hybrid, yang terdiri atas mahasiswa PPG, dosen, guru pamong, akademisi, serta peserta internasional, menunjukkan tingginya antusiasme terhadap isu pendidikan inklusif sebagai agenda bersama dalam pembangunan pendidikan masa depan. Dalam sambutannya, pimpinan universitas menegaskan bahwa seminar internasional ini merupakan bagian dari langkah strategis UMM dalam mendukung internasionalisasi pendidikan menuju visi UMM 2030. Pendidikan inklusif dipandang bukan sekadar memberikan akses kepada semua peserta didik, melainkan memastikan kualitas, kebermaknaan, dan keberpihakan sistem pendidikan terhadap seluruh lapisan masyarakat. Pendidikan harus menjadi instrumen transformasi sosial yang mampu menciptakan keadilan, mengurangi kesenjangan, dan menjadi fondasi pembangunan bangsa. UMM menempatkan pendidikan inklusif sebagai bagian integral dari penguatan ekosistem akademik yang responsif terhadap perubahan global dan kebutuhan masyarakat multikultural. Salah satu momentum penting dalam seminar ini adalah keynote speech dari jajaran Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia yang menyoroti arah kebijakan nasional dalam mewujudkan pendidikan inklusif. Dalam paparannya dijelaskan bahwa pemerintah mengusung visi “Pendidikan Bermutu untuk Semua” sebagai landasan utama transformasi sistem pendidikan nasional. Kebijakan pendidikan inklusif diarahkan untuk memastikan bahwa tidak ada satu pun peserta didik yang tertinggal, terlepas dari latar belakang sosial, ekonomi, geografis, maupun kondisi disabilitasnya. Pemerintah terus melakukan penguatan melalui peningkatan kapasitas guru, penyediaan sarana dan prasarana pendukung, adaptasi kurikulum, penguatan unit layanan disabilitas, serta pengembangan Guru Pendidikan Khusus (GPK) guna menjamin keberlangsungan layanan pendidikan inklusif yang berkualitas. Lebih lanjut, pemaparan Prof.Dr. Nunuk Suryani,M.Pd Dirjen GTK Kemendikdasmen RI menekankan bahwa penguatan kompetensi guru melalui program Pendidikan Profesi Guru (PPG) merupakan salah satu strategi fundamental dalam mewujudkan pendidikan inklusif yang substantif. Program PPG dirancang untuk membentuk guru profesional yang tidak hanya menguasai aspek pedagogik dan profesionalitas akademik, tetapi juga memiliki sensitivitas sosial, kemampuan reflektif, serta kapasitas untuk merespons keberagaman kebutuhan peserta didik. Kurikulum PPG saat ini terus diperkuat melalui integrasi pembelajaran mendalam, pendidikan nilai, bimbingan konseling, serta insersi pendidikan inklusif agar calon guru memiliki kesiapan menghadapi realitas kelas yang semakin heterogen. Seminar ini juga menghadirkan narasumber akademisi terkemuka dari berbagai institusi. Prof. Dr. Trisakti Handayani, M.M. dari Universitas Muhammadiyah Malang membahas transformasi kebijakan pendidikan menuju Sustainable Development Goals (SDGs) 2030. Dr. Juni Eben Heiser, Ph.D. dari Deakin University mengupas tantangan eksklusi dalam pendidikan dan pentingnya transformasi menuju inklusi substantif. Sementara itu, Dr. Tarsisius Sarkim, M.Ed., Ph.D. dari Universitas Sanata Dharma menyoroti ketimpangan pendidikan global, dampaknya terhadap kualitas pembelajaran, dan urgensi reformasi pendidikan berbasis keadilan sosial. Diskusi akademik yang berlangsung menegaskan bahwa pendidikan inklusif harus dipahami secara komprehensif, bukan sekadar menyediakan akses, tetapi memastikan keberhasilan belajar yang bermakna bagi seluruh peserta didik. Secara konseptual, seminar ini menegaskan bahwa inklusi transformatif merupakan paradigma pendidikan yang melampaui pendekatan administratif menuju perubahan sistemik dalam tata kelola pendidikan. Pendidikan inklusif harus mampu menjadi medium rekonstruksi sosial yang menghapus berbagai hambatan struktural, kultural, dan pedagogis yang menghalangi peserta didik untuk berkembang secara optimal. Dalam konteks global yang ditandai oleh polarisasi sosial, ketimpangan akses teknologi, dan dinamika perubahan geopolitik, pendidikan dituntut untuk hadir sebagai ruang yang memanusiakan, memberdayakan, dan mempersiapkan generasi masa depan dengan kompetensi adaptif berbasis nilai-nilai keadilan. Melalui penyelenggaraan seminar internasional ini, UMM menegaskan posisinya sebagai institusi pendidikan tinggi yang aktif mengambil peran dalam pengembangan wacana pendidikan global sekaligus memperkuat praktik pendidikan guru di Indonesia. Forum ini diharapkan melahirkan rekomendasi akademik, gagasan inovatif, serta kolaborasi berkelanjutan yang mampu memperkuat implementasi pendidikan inklusif di tingkat nasional maupun internasional. Seminar ini sekaligus menjadi bukti bahwa kolaborasi lintas institusi dan lintas negara merupakan prasyarat penting dalam membangun ekosistem pendidikan yang inklusif, berkeadilan, dan berorientasi pada masa depan.  

AI, Moral, dan Krisis Guru: Podcast PPG UMM Warnai Hari Pendidikan Nasional 2026

Program Studi Pendidikan Profesi Guru (PPG) Universitas Muhammadiyah Malang menggelar podcast spesial dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 (2/5/2026). Podcast yang menghadirkan mahasiswa lintas program studi tersebut menjadi ruang diskusi kritis mengenai tantangan, arah kebijakan, hingga masa depan pendidikan Indonesia di tengah perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (AI). Kegiatan dipandu oleh Ahmad AL Hafidz sebagai host dengan menghadirkan tiga narasumber dari bidang studi berbeda, yakni Sumandari dari Bidang Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Ahmad Saiful Islam dari Bidang Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, serta Muhammad Nurudin Wicaksono dari Bidang Studi PGSD. Dalam diskusi tersebut, para peserta menyoroti isu hangat terkait wacana penghapusan beberapa jurusan pendidikan yang dinilai tidak relevan dengan kebutuhan industri. Sumandari menilai penggunaan istilah “penghapusan” terlalu ekstrem dan seharusnya pemerintah lebih mengedepankan evaluasi serta penyesuaian kuota mahasiswa pada program studi pendidikan. Menurutnya, pemerintah perlu mempertimbangkan kebutuhan tenaga pendidik secara matang agar tidak terjadi ketimpangan antara jumlah lulusan dan lapangan pekerjaan. Senada dengan itu, Ahmad Saiful Islam menekankan bahwa perkembangan industri bersifat dinamis sehingga pemerintah belum tentu dapat memprediksi kebutuhan masa depan secara pasti. Ia menilai solusi terbaik bukan menghapus jurusan pendidikan, melainkan melakukan penyesuaian dan pengkajian yang lebih mendalam terhadap kebutuhan industri dan dunia kerja. Sementara itu, Muhammad Nurudin Wicaksono menyoroti persoalan melimpahnya lulusan pendidikan yang tidak sebanding dengan formasi pekerjaan yang tersedia. Ia mengusulkan adanya pembatasan kuota penerimaan mahasiswa di jurusan pendidikan agar tidak terjadi over supply tenaga pendidik di masa mendatang. Selain membahas kebijakan pendidikan, diskusi juga menyinggung pentingnya penyesuaian kurikulum kampus dengan kondisi nyata di sekolah. Para narasumber menilai perguruan tinggi harus lebih adaptif terhadap perkembangan pendekatan pembelajaran terbaru seperti deep learning, STEM, serta pembelajaran berdiferensiasi agar calon guru siap menghadapi tantangan dunia pendidikan yang terus berubah. Topik penggunaan Artificial Intelligence (AI) dalam pendidikan turut menjadi perhatian utama. Ahmad Saiful Islam menegaskan bahwa AI seharusnya diposisikan sebagai alat bantu, bukan pengganti kemampuan manusia. Menurutnya, guru yang mampu memanfaatkan AI akan memiliki keunggulan dalam perencanaan pembelajaran, diferensiasi materi, hingga analisis kebutuhan siswa, selama tetap menjaga integritas dan kreativitas diri. Dalam pembahasan mengenai Indonesia Emas 2045, para peserta juga menyoroti pentingnya pendidikan moral dan karakter di tengah tantangan era digital. Mereka menilai guru memiliki peran strategis dalam membentuk generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki etika, moral, dan kepedulian sosial. Di akhir podcast, para narasumber menyampaikan pesan reflektif kepada para guru dan calon guru di seluruh Indonesia. Mereka mengajak seluruh insan pendidikan untuk terus bersabar, meningkatkan kompetensi diri, serta beradaptasi dengan perkembangan teknologi demi mewujudkan pendidikan Indonesia yang lebih maju dan merata. Melalui podcast ini, PPG UMM tidak hanya memperingati Hardiknas secara seremonial, tetapi juga menghadirkan ruang dialog yang kritis dan reflektif mengenai berbagai persoalan pendidikan nasional. Diskusi tersebut diharapkan mampu menjadi inspirasi bagi calon guru Indonesia untuk terus berinovasi dan berkontribusi dalam mencerdaskan kehidupan bangsa di era transformasi digital.  

Tak Sekadar Mengajar, PPG UMM Bekali Mahasiswa dengan Pembelajaran Bermakna dan Inovatif dengan STEM dan Deep Learning

Sebagai bentuk komitmen dalam menghadirkan pendidikan yang adaptif terhadap tantangan abad ke-21, Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) Universitas Muhammadiyah Malang kembali menghadirkan inovasi dalam pelaksanaan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL-1). Kegiatan yang berlangsung di Teater Dome UMM pada Sabtu (11/4) tersebut diikuti ratusan mahasiswa dan dibuka langsung oleh Ketua Tim Kerja PPG UMM, Prof. Dr. Sugiarti, M.Si. Dalam kegiatan tersebut, Dr. Nurwidodo, M.Kes. menjadi salah satu pemateri utama dengan membawakan materi bertema “Pengintegrasian STEM dalam Modul Ajar”. Ia menjelaskan bahwa dunia pendidikan saat ini memerlukan pendekatan pembelajaran yang terintegrasi untuk menjawab kebutuhan peserta didik di era modern. Karena itu, model PM-STEM-PjBL dinilai mampu menjadi salah satu strategi pembelajaran yang relevan dan inovatif. Menurut Nurwidodo, konsep utama dari pendekatan ini adalah menyatukan berbagai unsur pembelajaran menjadi satu kesatuan yang saling terhubung. Melalui integrasi tipe nested atau tersarang, proses belajar tidak hanya berfokus pada materi semata, tetapi juga mengaitkan antar konsep agar tercipta pembelajaran mendalam atau deep learning. Ia menegaskan bahwa tujuan akhirnya adalah membangun pemahaman yang bermakna, memperkuat keterampilan, serta membentuk sikap positif peserta didik untuk menghadapi tantangan abad ke-21. Pendekatan tersebut memadukan Pendekatan Makna (PM) yang menitikberatkan pada meaningful, mindful, dan enjoyful learning dengan pembelajaran berbasis STEM yang melibatkan unsur sains, teknologi, engineering, dan matematika. Seluruh proses kemudian diimplementasikan melalui model Project Based Learning (PjBL) yang menempatkan peserta didik sebagai pusat pembelajaran. Dalam pemaparannya, Nurwidodo juga menjelaskan enam tahapan utama dalam sintaks PjBL, mulai dari merumuskan pertanyaan mendasar, merancang proyek, menyusun jadwal kegiatan, memantau pelaksanaan proyek, menilai hasil produk, hingga melakukan refleksi pembelajaran. Ia menekankan bahwa dua tahap awal, yaitu merumuskan pertanyaan mendasar dan merencanakan proyek, menjadi fondasi paling penting dalam menentukan keberhasilan pembelajaran. Ia mengibaratkan pertanyaan mendasar sebagai pintu awal eksplorasi pengetahuan yang tidak cukup dijawab secara singkat. Pertanyaan yang baik justru mampu mendorong peserta didik melakukan penyelidikan mendalam berbasis data, bukti ilmiah, serta penalaran logis. Untuk membantu guru menyusun pertanyaan yang berkualitas, Nurwidodo menyarankan penggunaan prinsip Aristoteles dengan melakukan eksplorasi konsep secara menyeluruh dan menyusun peta konsep sebagai dasar pemetaan masalah. Tidak hanya meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas, implementasi integrasi PM-STEM-PjBL juga dinilai mendukung pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Pendekatan ini dapat digunakan untuk mendeskripsikan proses implementasi pembelajaran sekaligus menganalisis peningkatan kemampuan peserta didik secara lebih terukur. Melalui penyusunan modul ajar yang sistematis dan inovatif, pendekatan PM-STEM-PjBL diharapkan mampu menciptakan pembelajaran yang lebih efektif, kreatif, dan bermakna. Di akhir pemaparannya, Nurwidodo menegaskan bahwa tujuan utama dari integrasi pembelajaran tersebut adalah menjadikan peserta didik berkembang menjadi pribadi yang lebih baik, baik dari sisi pengetahuan, keterampilan, maupun karakter.

Hadirkan Profesor Taiwan, UMM Kupas Strategi Ketangguhan Guru di Tengah Disrupsi Digital

Universitas Muhammadiyah Malang melalui Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) menggelar kuliah tamu internasional bertajuk “Teacher Resiliency in the Digital Age: Strategies for Enhancing Adaptability in Global Competition”. Kegiatan ini dilaksanakan secara hybrid dan diikuti oleh mahasiswa PPG, dosen, guru pamong, serta sivitas akademika UMM (5/4/2026). Acara dibuka secara resmi oleh Wakil Rektor IV UMM, Salis Yuniardi, Dalam sambutannya, beliau menyampaikan komitmen UMM untuk menghadirkan pendidikan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga berakar kuat pada nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan. Ketua Program Pendidikan Profesi Guru UMM, Trisakti Handayani, dalam sambutannya menekankan pentingnya ketangguhan guru dalam menghadapi perkembangan teknologi digital yang sangat pesat. Menurutnya, guru masa kini tidak hanya dituntut menguasai materi pembelajaran, tetapi juga harus adaptif, kreatif, dan mampu memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan kualitas pendidikan. “Ketangguhan guru di era digital bukan sekadar kemampuan bertahan menghadapi tantangan, tetapi kemampuan untuk terus tumbuh, beradaptasi, dan memanfaatkan teknologi sebagai sarana meningkatkan kualitas pembelajaran,” ujarnya. Kuliah tamu internasional ini menghadirkan narasumber utama, yakni Chan Yen Chang, Chair Professor sekaligus Director of Science Education Center National Taiwan Normal University (NTNU). Dalam paparannya, Prof. Chang membahas pentingnya adaptabilitas guru terhadap teknologi pembelajaran di era digital dan kompetisi global. Prof. Chang memperkenalkan dua platform inovatif yang dikembangkan timnya di NTNU, yakni Cloud Classroom dan IC AI, yang dirancang untuk mendukung pembelajaran interaktif berbasis teknologi dan kecerdasan buatan. Kedua platform tersebut dapat diakses secara gratis oleh pendidik di seluruh dunia. “Teknologi harus menjadi alat untuk memperkuat proses pembelajaran, bukan menggantikan peran guru. Guru tetap memiliki posisi sentral sebagai inspirator, pembimbing, dan pembentuk karakter peserta didik,” jelasnya. Pada sesi kedua, Wakil Rektor IV UMM, Salis Yuniardi, memaparkan materi mengenai adaptabilitas psikologis guru di era digital. Ia menekankan bahwa selain kompetensi teknologi, guru juga perlu memiliki ketahanan mental, resiliensi, dan pola pikir berkembang (growth mindset) agar mampu menghadapi dinamika perubahan zaman. Kegiatan ini mendapat antusiasme tinggi dari peserta, baik yang hadir secara langsung maupun daring. Dalam sesi diskusi interaktif, para mahasiswa PPG dan guru pamong berkesempatan berdialog langsung dengan narasumber terkait tantangan implementasi teknologi dalam pembelajaran. Melalui kuliah tamu internasional ini, UMM berharap dapat memperluas wawasan mahasiswa PPG dan para pendidik untuk menjadi guru profesional yang adaptif, tangguh, dan siap bersaing di tingkat global tanpa meninggalkan identitas budaya Indonesia serta nilai-nilai keislaman.Acara ditutup dengan sesi foto bersama dan harapan agar kolaborasi akademik antara UMM dan National Taiwan Normal University dapat terus berlanjut di masa mendatang.  

PPG UMM Bekali Calon Guru dengan Wawasan Pendidikan Inklusif

KLIKMU.CO – Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengawali perkuliahan semester ini melalui Kuliah Perdana bertema Kelas yang Menggembirakan: Menumbuhkan Pemahaman Literasi Keragaman melalui Kolaborasi Lintas Budaya. Kegiatan yang digelar secara daring pada Sabtu (31/1/2026) ini menjadi langkah awal PPG UMM dalam menyiapkan calon guru yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan terhadap keberagaman di ruang kelas. Kuliah perdana tersebut menghadirkan Budi H. Setiamarga PhD, Program Advisor Institut Leimena, sebagai pemateri utama. Dalam paparannya, Budi menyoroti tantangan dunia pendidikan di tengah masyarakat yang semakin majemuk, baik dari sisi budaya, agama, maupun latar belakang sosial. Ia menegaskan bahwa kelas perlu dipahami sebagai ruang perjumpaan yang hidup, tempat peserta didik belajar mengenali dan memahami perbedaan secara sadar dan konstruktif. Menurut Budi, pembelajaran yang menggembirakan bukan berarti menghilangkan kedalaman materi. Sebaliknya, pembelajaran perlu dirancang sebagai proses yang aman, inklusif, dan mendorong partisipasi aktif peserta didik. Pendekatan tersebut sejalan dengan konsep 3H (Head, Heart, Hand), yakni pembelajaran yang menyentuh aspek kognitif (head), membangun kesadaran nilai dan empati (heart), serta diwujudkan melalui tindakan nyata dalam kolaborasi dan praktik di kelas (hand). “Guru perlu membangun kelas yang memberi rasa aman bagi siswa untuk bertanya, berdialog, dan bekerja sama. Dari situlah pemahaman tentang keragaman tumbuh secara alami,” ujarnya. Lebih lanjut, Budi menjelaskan bahwa literasi keragaman tidak cukup disampaikan sebagai teori atau wacana normatif semata. Nilai-nilai tersebut perlu dihadirkan melalui praktik pembelajaran, seperti kerja kelompok lintas latar belakang, diskusi reflektif, serta pengelolaan perbedaan dan konflik secara edukatif. “Dengan demikian, peserta didik tidak hanya mengetahui adanya perbedaan, tetapi juga mampu menghargai dan menyikapinya secara dewasa,” ujarnya. Sementara itu, Ketua Program Studi PPG UMM Prof Dr Trisakti Handayani MM menegaskan bahwa kuliah perdana ini menjadi penanda arah pembelajaran PPG UMM ke depan. Ia menyampaikan bahwa PPG UMM berkomitmen mencetak guru profesional yang unggul secara pedagogik, sekaligus memiliki sensitivitas sosial dan wawasan kebangsaan yang kuat. Menurutnya, kelas yang menggembirakan merupakan prasyarat penting bagi tumbuhnya pemahaman peserta didik. Suasana belajar yang positif, aman, dan inklusif memungkinkan siswa terlibat aktif dalam pembelajaran, berani menyampaikan pendapat, serta terbuka terhadap perbedaan. Dalam konteks ini, guru berperan tidak hanya sebagai penyampai materi, tetapi juga fasilitator yang membangun relasi dialogis dan menumbuhkan sikap saling menghargai di kelas. “Pembelajaran yang bermakna bukan hanya soal penyampaian materi, tetapi bagaimana guru menciptakan suasana belajar yang memanusiakan, menghargai perbedaan, dan menumbuhkan rasa ingin tahu,” ungkapnya. Dia menambahkan, kolaborasi lintas budaya merupakan salah satu kompetensi kunci yang perlu dimiliki calon guru PPG. Melalui pembelajaran yang reflektif dan kontekstual, mahasiswa PPG UMM diharapkan mampu menerjemahkan nilai toleransi, dialog, dan kebinekaan ke dalam praktik pembelajaran di sekolah. Melalui kuliah perdana ini, PPG UMM menegaskan perannya dalam menyiapkan guru masa depan yang adaptif terhadap dinamika sosial, mampu membangun kelas yang inklusif, serta berkontribusi aktif dalam memperkuat persatuan melalui pendidikan. (Faqih/AS)

PPG UMM Cetak Guru Berwawasan Global, Siapkan Program Praktik Ke Australia

JurnalPost.com – Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) merupakan unit strategis yang berperan penting dalam menyiapkan guru profesional di tingkat nasional. Hal itu ditegaskan Wakil Rektor II Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Dr. Ahmad Juanda, Ak., M.M., C.A. dalam Orientasi Akademik Mahasiswa PPG Calon Guru UMM Gelombang I Kemendikdasmen tahun 2026, 29 Januari 2026. Menariknya, UMM juga memberikan kesempatan para mahasiswa PPG untuk bisa praktik pengalaman lapangan (PPL) di sekolah Australia. Untuk itu, persiapan yang dilakukan dengan mewajibkan mahasiswa dalam melaksanakan presentasi menggunakan bahasa Inggris. Ini menjadi cara UMM untuk memberikan wawasan global bagi para mahasiswanya. Lebih lanjut, Juanda mengatakan bahwa UMM telah berpengalaman lebih dari satu dekade dalam mendampingi proses pembentukan guru dan menjadi salah satu pelaksana PPG terbaik di Indonesia. Baik dari sisi prestasi mahasiswa maupun kualitas pembelajaran. Menurutnya, gelar profesi guru bukan sekadar atribut administratif, tetapi simbol tanggung jawab moral dan profesional yang melekat pada sosok pendidik. “Guru yang paling membekas dalam ingatan peserta didik bukan semata karena kemampuan akademik, melainkan karena keteladanan dan sentuhan afektif. Khususnya pada jenjang pendidikan dasar yang memiliki peran strategis dalam membentuk karakter, empati, dan kepribadian murid,” terangnya. Juanda menegaskan, guru ideal bukan hanya good teacher atau excellent teacher, tetapi inspiring teacher yang mampu menanamkan makna, nilai, dan inspirasi. Melalui PPG UMM, calon guru diharapkan tumbuh dengan spirit pengabdian ‘Dari Muhammadiyah untuk Bangsa’. Di sisi lain, Subkoordinator Implementasi PPG Prajabatan Kemendikdasmen, Yulia Gita Fany, M.Si. menjelaskan bahwa Program PPG adalah instrumen strategis negara dalam menyiapkan guru yang profesional dan berintegritas. Di agenda bertema ‘Guru Hebat, Dunia Menanti: Tumbuh, Beraksi, dan Menginspirasi dengan Nilai-Nilai Keislaman’ ini, Yulia menilai PPG tidak boleh dipahami sebatas jalur administratif untuk memperoleh sertifikat pendidik. Melainkan sebagai proses pembentukan kompetensi guru secara utuh dan berkelanjutan. “Guru profesional bukan hanya mereka yang lulus sertifikasi, tetapi yang memahami perannya sebagai pendidik, mampu menghadirkan pembelajaran yang berpihak pada murid, serta adaptif terhadap perubahan zaman dan kebutuhan peserta didik,” katanya. PPG Prajabatan dirancang lebih kontekstual dan aplikatif melalui penguatan praktik lapangan, refleksi pembelajaran, serta integrasi nilai karakter dan etika profesi. Pemerintah juga menyediakan beasiswa penuh sebagai bentuk komitmen negara agar calon guru tidak hanya siap mengajar, tetapi juga siap menjadi figur teladan di tengah masyarakat. “Keberhasilan PPG sangat ditentukan oleh kolaborasi antara perguruan tinggi, sekolah mitra, dan pemerintah daerah,” tegasnya. Hal serupa juga disampaikan Ketua Program Studi PPG UMM, Prof. Dr. Trisakti Handayani, M.M. Menurutnya, tema yang diambil bukan sekadar slogan seremonial, melainkan refleksi atas tantangan nyata dunia pendidikan saat ini. Menurutnya, calon guru dihadapkan pada kompleksitas persoalan pendidikan, mulai dari percepatan teknologi hingga perubahan karakter peserta didik. Problem krisis nilai yang ada menuntut kehadiran guru tidak hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai teladan moral. “Tumbuh sebagai guru tidak lahir dari kenyamanan. Ia tumbuh dari keberanian menghadapi tantangan, memperbarui cara berpikir, serta memperdalam pemahaman terhadap teori pendidikan dan strategi pembelajaran inovatif yang tetap berlandaskan nilai-nilai keislaman,” tegas Trisakti.

Siap Menggerakkan Transformasi Pendidikan Nasional. 3016 Mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Resmi Dikukuhkan

pwmu.co –Sebanyak 3.016 mahasiswa Profesi Guru Pendidikan Profesi Guru (PPG) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi dikukuhkan dan disumpah (22/1/2026).Ribuan mahasiswa yang hadir secara luring maupun daring itu merupakan bagian dari program PPG Dalam Jabatan bagi Guru Madrasah Mata Pelajaran Umum Batch II Kementerian Agama Tahun 2025. Kegiatan ini sekaligus menjadi komitmen UMM untuk mencetak guru-guru profesional yang unggul. “Mutu pendidikan madrasah tidak ditentukan oleh kurikulum semata, melainkan oleh sejauh mana negara memastikan guru-gurunya berdiri sebagai profesi yang diakui, berkompetensi, dan berkelanjutan,” tegas Direktur Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Madrasah Kementerian Agama RI, Dr. Fesal Musaad, M.Pd., dalam paparannya. Menurutnya, peningkatan mutu pendidikan nasional harus dimulai dari penguatan profesionalisme guru madrasah melalui peningkatan kualifikasi, sertifikasi, dan kompetensi yang terintegrasi. Sebab guru merupakan penentu utama keberhasilan pembelajaran dan kualitas lulusan. Sehingga tanpa guru yang kompeten, sejahtera, dan memiliki kepastian status profesional, cita-cita melahirkan generasi Indonesia yang kompetitif dan berakhlak mulia tidak akan tercapai secara optimal. “Peserta didik tidak mungkin mencapai kompetensi tinggi apabila gurunya berkompetensi rendah. Guru adalah kunci dan ujung tombak pembelajaran, sehingga upaya sertifikasi, PPG dalam jabatan, serta penguatan kompetensi pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian harus dipahami sebagai ikhtiar negara dalam menjamin mutu pendidikan madrasah,” ujarnya. Tonggak profesionalisme guru madrasah juga ditegaskan oleh Ketua Program PPG FKIP UMM, Prof. Dr. Trisakti Handayani, M.M. Ia memandang pengambilan sumpah profesi sebagai fase penting dalam perjalanan pendidik, karena PPG dalam jabatan tidak sekadar proses administratif memperoleh sertifikat pendidik, melainkan bentuk pengakuan resmi atas dedikasi, kompetensi, dan komitmen guru dalam meningkatkan kualitas diri serta mutu pendidikan nasional. “Menjadi pendidik profesional bukan hanya tentang memiliki sertifikat, melainkan komitmen untuk terus belajar, berinovasi, dan mengembangkan diri. Apalagi profesionalisme menuntut penguasaan kompetensi pedagogik, sosial, kepribadian, dan profesional secara utuh yang telah bapak dan ibu buktikan melalui Program PPG dalam Jabatan,” ujarnya. Ia juga menyoroti perubahan lanskap pendidikan di era digital yang menempatkan guru pada tuntutan baru untuk mampu mengintegrasikan teknologi secara bijak dan bermakna. Mengingat peserta didik merupakan generasi digital yang tumbuh bersama teknologi, pembelajaran harus dirancang lebih kontekstual dan menarik tanpa menghilangkan nilai keteladanan dan peran guru sebagai pusat pembelajaran. “Di tengah derasnya arus digitalisasi, peran guru sebagai inspirator dan pembentuk karakter justru semakin penting, dan pendidikan inklusif harus menjadi komitmen bersama karena setiap anak berhak memperoleh pendidikan yang berkualitas demi terwujudnya generasi emas Indonesia 2045 yang tidak hanya cakap secara digital, tetapi juga mulia dalam karakter,” tegasnya. Sementara itu, Rektor Universitas Muhammadiyah Malang, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menempatkan pengambilan sumpah profesi guru madrasah sebagai momentum strategis dalam meneguhkan pilihan karier pendidik. Ia juga menegaskan bahwa pendidikan madrasah merupakan bagian integral dari kultur pendidikan bangsa Indonesia dan tidak lagi dapat diposisikan sebagai entitas yang terpisah dari pendidikan umum. Melainkan satu kesatuan strategis dalam sistem pendidikan nasional. “Pendidikan madrasah dan pendidikan umum bukan lagi sebuah dikotomi, tetapi tatanan pendidikan yang menyatu untuk melahirkan manusia Indonesia yang berkarakter, dan yang paling penting adalah bagaimana bapak-ibu merawat niat untuk terus memberikan yang terbaik demi tercapainya cita-cita mulia pendidikan,” ujarnya. Pengukuhan dan pengambilan sumpah profesi guru PPG dalam jabatan ini pada akhirnya tidak hanya menandai berakhirnya satu tahap pendidikan profesi. Namun juga membuka babak tanggung jawab baru bagi para guru madrasah mata pelajaran umum untuk menjadi pendidik profesional di era digital, yang berkomitmen pada nilai inklusi, penguasaan kompetensi abad ke-21, dan pengabdian berkelanjutan dalam membangun Generasi Emas Indonesia 2045.(*) *) Penulis : Hassan Al Wildan *) Editor : Zahrah Khairani Karim  

UMM Perkuat Transformasi Pendidikan melalui Workshop Pengembangan Kurikulum PPG Berbasis Outcome-Based Education

Malang – Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kualitas pendidikan guru melalui penyelenggaraan Workshop Pengembangan Kurikulum PPG Berbasis Outcome-Based Education (OBE) (23/12/2026). Kegiatan ini menghadirkan berbagai pemangku kepentingan pendidikan, mulai dari pimpinan universitas, dosen, guru pamong, pengelola PPG, hingga pakar kurikulum nasional untuk bersama-sama merumuskan arah pengembangan kurikulum yang lebih adaptif dan berorientasi pada capaian pembelajaran. Workshop dibuka dengan sambutan Ketua Program Studi PPG UMM, Prof. Dr. Trisakti Handayani, M.M., yang menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan wujud nyata komitmen UMM dalam melakukan pembaruan dan peningkatan kualitas pendidikan profesi guru. Menurutnya, kualitas pendidikan suatu bangsa sangat ditentukan oleh kualitas guru yang mengajar di kelas. Oleh karena itu, Program Pendidikan Profesi Guru memiliki peran strategis dalam mencetak guru profesional yang mampu menjawab tantangan zaman. Dalam sambutannya, Prof. Trisakti menjelaskan bahwa dunia pendidikan saat ini menghadapi berbagai tantangan, mulai dari perkembangan teknologi yang sangat cepat, perubahan karakteristik peserta didik generasi digital, hingga tuntutan keterampilan abad ke-21. Kondisi tersebut menuntut adanya inovasi berkelanjutan dalam pengembangan kurikulum PPG agar tetap relevan dengan kebutuhan pendidikan masa kini dan masa depan. Salah satu pendekatan yang diadopsi adalah Outcome-Based Education (OBE), yaitu pendekatan pendidikan yang menempatkan capaian pembelajaran sebagai pusat dari seluruh proses pendidikan. “Dalam pendekatan OBE, fokus pendidikan tidak lagi semata-mata pada apa yang diajarkan dosen, melainkan pada apa yang benar-benar dikuasai mahasiswa setelah menyelesaikan proses pembelajaran,” ungkapnya. Pendekatan ini mendorong perubahan paradigma dari teacher-centered learning menuju student-centered learning, serta dari orientasi proses menuju orientasi hasil yang terukur. Rektor Universitas Muhammadiyah Malang, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, dalam arahannya menekankan bahwa pendidikan tidak hanya bertujuan menghasilkan lulusan yang unggul secara akademik, tetapi juga mampu membentuk insan paripurna yang memiliki keseimbangan antara kemampuan intelektual, emosional, sosial, dan spiritual. Ia menjelaskan bahwa keberhasilan pendidikan harus dilihat secara komprehensif, mulai dari input, proses, output, hingga outcome yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Lebih lanjut, Rektor UMM menyoroti pentingnya pengembangan berbagai keterampilan abad ke-21 seperti kemampuan beradaptasi, pemecahan masalah, pengambilan keputusan, komunikasi efektif, kolaborasi, kreativitas, dan inovasi. Menurutnya, pendekatan OBE sangat relevan untuk mendukung lahirnya guru-guru yang tidak hanya kompeten secara akademik, tetapi juga mampu menjadi agen perubahan dalam dunia pendidikan. Workshop ini menghadirkan narasumber utama, Prof. Dr. Din Wahyudin, Guru Besar Bidang Kurikulum dari Universitas Pendidikan Indonesia. Dalam paparannya, ia menjelaskan bahwa implementasi OBE merupakan bagian dari upaya peningkatan mutu pendidikan tinggi yang berorientasi pada dampak nyata dari proses pembelajaran. OBE tidak hanya berfokus pada penyampaian materi, tetapi memastikan bahwa lulusan benar-benar memiliki kompetensi yang dibutuhkan sesuai tuntutan profesi dan perkembangan zaman. Prof. Din menegaskan bahwa kurikulum PPG harus mampu mengintegrasikan berbagai dimensi kompetensi, meliputi pengetahuan (knowledge), keterampilan (skills), dan sikap (attitudes). Ketiga aspek tersebut harus dikembangkan secara seimbang agar menghasilkan guru profesional yang tidak hanya menguasai materi pembelajaran, tetapi juga memiliki karakter kuat, kemampuan berpikir kritis, keterampilan sosial, serta komitmen terhadap pembelajaran sepanjang hayat. Ia juga mengingatkan bahwa pengembangan kurikulum berbasis OBE harus selalu merujuk pada capaian pembelajaran lulusan (CPL) yang jelas dan terukur. Setiap mata kuliah perlu dirancang untuk berkontribusi secara langsung terhadap pencapaian kompetensi lulusan, sehingga seluruh proses pendidikan memiliki arah yang terintegrasi dan berdampak nyata bagi kualitas lulusan. Selain sesi pemaparan materi, peserta workshop juga disuguhkan berbagai praktik baik pembelajaran dari PPG UMM. Tayangan video yang ditampilkan memperlihatkan implementasi pembelajaran inovatif berbasis Project-Based Learning (PjBL), asesmen autentik, pembelajaran berdiferensiasi, serta pendekatan STEM yang diterapkan oleh mahasiswa PPG dalam praktik pembelajaran di sekolah. Kegiatan refleksi bersama dosen pembimbing dan guru pamong menjadi bukti komitmen PPG UMM dalam membangun budaya perbaikan berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas calon guru profesional. Melalui workshop ini, PPG UMM berharap dapat menghasilkan rancangan kurikulum yang lebih inovatif, relevan, dan selaras dengan kebutuhan pendidikan masa depan. Kegiatan ini sekaligus menjadi momentum strategis untuk memperkuat kolaborasi antara akademisi, praktisi pendidikan, dan pemangku kebijakan dalam menyiapkan guru-guru profesional yang mampu menghadirkan pembelajaran bermakna, berorientasi pada hasil, dan memberikan dampak nyata bagi kemajuan pendidikan Indonesia. Dengan semangat transformasi pendidikan dan implementasi Outcome-Based Education, PPG Universitas Muhammadiyah Malang terus berupaya menjadi pelopor dalam menghasilkan guru profesional yang unggul, berkarakter, inovatif, dan siap menghadapi tantangan pendidikan abad ke-21.

Mencari Ide dan Mendesain Penelitian Berorientasi Jurnal Internasional Bereputasi Berbantuan AI

Pendidikan Profesi Guru UMM kembali menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kualitas akademik melalui kegiatan pelatihan bertajuk “Mencari Ide dan Mendesain Penelitian Berorientasi Jurnal Internasional Bereputasi Berbantuan AI”. Kegiatan tersebut menghadirkan Ahmad Fauzi sebagai narasumber utama yang membagikan strategi pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) untuk membantu dosen, guru, dan mahasiswa dalam merancang penelitian berkualitas internasional. Dalam pemaparannya, Ahmad Fauzi menjelaskan bahwa AI dapat dimanfaatkan sebagai mitra berpikir dalam proses penelitian, mulai dari mencari ide, menganalisis artikel, hingga menyusun desain penelitian. Ia menekankan bahwa langkah awal untuk menghasilkan penelitian berkualitas adalah mempelajari artikel-artikel yang telah terpublikasi pada jurnal bereputasi internasional, khususnya jurnal terindeks Scopus. Peserta diperkenalkan dengan pemanfaatan Google Scholar sebagai basis pencarian artikel ilmiah, serta penggunaan ekstensi Rapid Journal Quality Check untuk membantu mengidentifikasi kualitas jurnal berdasarkan kuartil Scopus. Menurutnya, penggunaan teknologi tersebut dapat mempermudah peneliti dalam memilah artikel berkualitas yang relevan dengan topik penelitian. Selain itu, Ahmad Fauzi juga menjelaskan pentingnya prompt engineering dalam memaksimalkan penggunaan AI seperti ChatGPT. Ia mencontohkan bagaimana pengguna dapat mengatur persona AI agar bertindak layaknya dosen, peneliti, editor, sekaligus reviewer jurnal internasional sehingga mampu memberikan respons yang lebih mendalam dan berkualitas. Dalam sesi praktik, peserta diajak mengunggah beberapa artikel jurnal Q1 ke dalam ChatGPT untuk dianalisis. Melalui tahapan prompting yang sistematis, AI diarahkan untuk mempelajari karakteristik ide penelitian berkualitas, desain penelitian bereputasi, hingga membantu menghasilkan alternatif topik penelitian yang relevan dengan konteks pendidikan di Indonesia. Ahmad Fauzi menegaskan bahwa ide penelitian pada jurnal bereputasi tidak hanya berfokus pada efektivitas model pembelajaran semata, melainkan harus mengangkat isu yang lebih luas seperti keterampilan abad ke-21, higher order thinking skills, hingga problematika pendidikan global. Menurutnya, penelitian berkualitas juga perlu memuat konstrak abstrak tingkat tinggi dan melibatkan mekanisme atau interaksi yang kompleks. Tak hanya membahas ide penelitian, pelatihan tersebut juga mengupas strategi pengembangan desain penelitian yang sesuai standar jurnal internasional. Peserta diarahkan untuk memahami bagaimana penelitian Q1 dirancang untuk menguji mekanisme, bukan sekadar pengaruh sederhana, serta pentingnya pemisahan yang jelas antara desain, metode, dan prosedur penelitian. Lebih lanjut, Ahmad Fauzi memperlihatkan bagaimana AI dapat membantu mengevaluasi kualitas ide penelitian melalui simulasi peran sebagai editor dan reviewer jurnal internasional. Dengan pendekatan tersebut, peserta dapat memperoleh masukan kritis sekaligus penilaian skor terhadap ide penelitian yang dirancang sebelum dikembangkan menjadi proposal penelitian. Kegiatan ini juga membahas pemanfaatan AI dalam penyusunan proposal penelitian, mulai dari penyusunan kerangka pendahuluan, pengembangan desain penelitian, hingga penyusunan kajian pustaka secara lebih sistematis. Namun demikian, Ahmad Fauzi menegaskan bahwa AI tidak boleh dijadikan jalan pintas dalam menulis karya ilmiah. AI hanya berfungsi sebagai alat bantu untuk mempercepat proses berpikir dan eksplorasi ide, sementara proses analisis, validasi, dan pengembangan tetap harus dilakukan oleh peneliti secara mandiri. Antusiasme peserta terlihat tinggi selama sesi diskusi berlangsung. Sejumlah peserta menanyakan implementasi AI dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK) hingga batas penggunaan file pada ChatGPT. Menanggapi hal tersebut, Ahmad Fauzi menyampaikan bahwa AI juga dapat dimanfaatkan untuk membantu guru menyusun PTK yang lebih sistematis dan terarah, asalkan tetap digunakan secara bijak dan berintegritas. Melalui kegiatan ini, PPG UMM berharap para pendidik dan calon peneliti mampu memanfaatkan perkembangan teknologi AI secara optimal untuk menghasilkan penelitian yang inovatif, relevan, dan berdaya saing internasional tanpa meninggalkan integritas akademik sebagai landasan utama dalam berkarya.  

PPG FKIP UMM Gelar Diklat Pramuka KMD dan KML Bersama PUSDIKLATCAB INDRAKILA Kabupaten Malang

Malang, 28 Mei 2025 – Dalam rangka membentuk calon guru yang tangguh, berkarakter, dan siap memimpin, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyelenggarakan Diklat Kepramukaan Mahir Dasar (KMD) dan Mahir Lanjutan (KML) bagi mahasiswa PPG Prajabatan Gelombang 2 Tahun Akademik 2024/2025. Kegiatan ini dilaksanakan selama 6 hari, pada tanggal 23–28 Mei 2025 dengan skema gabungan, 3 hari pembelajaran daring dan 3 hari praktik lapangan yang dipusatkan di Bumi Perkemahan Sengkaling UMM. Kegiatan ini terselenggara berkat kerja sama antara FKIP UMM dan Pusat Pendidikan dan Pelatihan Cabang (Pusdiklatcab) Indrakila, Kwartir Cabang Kabupaten Malang. Kegiatan dibuka oleh Prof. Dr. Abdulkadir Rahardjanto, M.Si., selaku Wakil Dekan II FKIP UMM. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan pentingnya kepramukaan sebagai fondasi karakter bagi calon pendidik. “Melalui kepramukaan, para calon guru belajar menjadi pemimpin, pembimbing, dan teladan bagi generasi muda di sekolah maupun masyarakat,” ujar Prof. Abdulkadir. Dengan adanya 214 mahasiswa yang mengikuti Diklat Pramuka KMD dan KML ini, diharapkan mereka tidak hanya memperoleh sertifikasi kepramukaan, tetapi juga mampu menanamkan nilai-nilai karakter, kedisiplinan, jiwa kepemimpinan, dan semangat kebangsaan kepada peserta didik di masa depan. Diklat ini menjadi langkah strategis dalam mempersiapkan guru profesional yang berkarakter islami, dan berdaya saing global, selaras dengan visi PPG FKIP UMM. Salah satu momen yang paling berkesan dalam rangkaian Diklat Pramuka KMD dan KML PPG FKIP UMM adalah kegiatan Pesta Siaga, yang dilaksanakan pada hari kedua.  Mengusung tema “Siaga Ceria, Berkarakter, dan Bersahabat dengan Alam”, kegiatan ini dirancang untuk menggambarkan dunia siaga (usia 7–10 tahun) yang penuh warna, menyenangkan, namun tetap sarat nilai pendidikan karakter. Pesta Siaga menjadi media pembelajaran yang kreatif dan interaktif, mencakup berbagai kegiatan seperti: Pameran Bazar Siaga: Menampilkan hasil karya kreatif, permainan edukatif, dan produk lokal hasil kolaborasi peserta. Karnaval Budaya: Peserta menampilkan pakaian adat, mini drama, dan yel-yel bertema cinta tanah air dan lingkungan. Pentas Seni & Permainan Tradisional: Tarian daerah, lagu-lagu nasional, dan berbagai permainan rakyat yang mempererat kebersamaan dan kecintaan terhadap warisan budaya. Kegiatan ini tidak hanya melatih keterampilan sosial dan kreativitas, tetapi juga memperkuat rasa percaya diri, tanggung jawab, serta kepedulian terhadap sesama dan lingkungan. Kehadiran tamu asing dari Bidang Pengabdian dan Kerja Sama Internasional UMM turut menambah semangat para peserta. Mereka memberikan apresiasi atas kekayaan budaya lokal yang ditampilkan dalam nuansa Pramuka, menjadikan pesta siaga ini sebagai representasi semangat global dalam bingkai kearifan lokal. Malam kedua menjadi momen yang mengesankan melalui kegiatan api unggun sebagai simbol semangat persaudaraan dan jiwa Pramuka. Sambutan pada upacara api unggun disampaikan oleh Dr. Arina Restian, M.Pd., selaku Ketua Panitia Diklat. “Diklat ini bukan hanya pelatihan teknis, tetapi juga pembelajaran nilai hidup: gotong royong, kedisiplinan, dan kecintaan pada alam serta bangsa,” ungkap Dr. Arina. Kegiatan ditutup secara resmi pada 28 Mei 2025 oleh Dr. Erna Yayuk, M.Pd. dalam Upacara Penutupan Pramuka, yang memberikan apresiasi kepada seluruh peserta dan panitia atas kelancaran kegiatan. “Saya yakin, semangat kepramukaan ini akan menjadi kekuatan moral dan karakter saat Anda berdiri di depan kelas sebagai guru profesional,” ujarnya. Diklat ini menjadi bagian integral dari pembentukan profil calon guru PPG FKIP UMM: berpengetahuan, berkarakter, dan berjiwa kepemimpinan. Para peserta kini siap meneruskan nilai-nilai Pramuka dalam dunia pendidikan Indonesia.