Sebagai bentuk komitmen dalam menghadirkan pendidikan yang adaptif terhadap tantangan abad ke-21, Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) Universitas Muhammadiyah Malang kembali menghadirkan inovasi dalam pelaksanaan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL-1). Kegiatan yang berlangsung di Teater Dome UMM pada Sabtu (11/4) tersebut diikuti ratusan mahasiswa dan dibuka langsung oleh Ketua Tim Kerja PPG UMM, Prof. Dr. Sugiarti, M.Si.
Dalam kegiatan tersebut, Dr. Nurwidodo, M.Kes. menjadi salah satu pemateri utama dengan membawakan materi bertema “Pengintegrasian STEM dalam Modul Ajar”. Ia menjelaskan bahwa dunia pendidikan saat ini memerlukan pendekatan pembelajaran yang terintegrasi untuk menjawab kebutuhan peserta didik di era modern. Karena itu, model PM-STEM-PjBL dinilai mampu menjadi salah satu strategi pembelajaran yang relevan dan inovatif.
Menurut Nurwidodo, konsep utama dari pendekatan ini adalah menyatukan berbagai unsur pembelajaran menjadi satu kesatuan yang saling terhubung. Melalui integrasi tipe nested atau tersarang, proses belajar tidak hanya berfokus pada materi semata, tetapi juga mengaitkan antar konsep agar tercipta pembelajaran mendalam atau deep learning. Ia menegaskan bahwa tujuan akhirnya adalah membangun pemahaman yang bermakna, memperkuat keterampilan, serta membentuk sikap positif peserta didik untuk menghadapi tantangan abad ke-21.
Pendekatan tersebut memadukan Pendekatan Makna (PM) yang menitikberatkan pada meaningful, mindful, dan enjoyful learning dengan pembelajaran berbasis STEM yang melibatkan unsur sains, teknologi, engineering, dan matematika. Seluruh proses kemudian diimplementasikan melalui model Project Based Learning (PjBL) yang menempatkan peserta didik sebagai pusat pembelajaran.
Dalam pemaparannya, Nurwidodo juga menjelaskan enam tahapan utama dalam sintaks PjBL, mulai dari merumuskan pertanyaan mendasar, merancang proyek, menyusun jadwal kegiatan, memantau pelaksanaan proyek, menilai hasil produk, hingga melakukan refleksi pembelajaran. Ia menekankan bahwa dua tahap awal, yaitu merumuskan pertanyaan mendasar dan merencanakan proyek, menjadi fondasi paling penting dalam menentukan keberhasilan pembelajaran.
Ia mengibaratkan pertanyaan mendasar sebagai pintu awal eksplorasi pengetahuan yang tidak cukup dijawab secara singkat. Pertanyaan yang baik justru mampu mendorong peserta didik melakukan penyelidikan mendalam berbasis data, bukti ilmiah, serta penalaran logis. Untuk membantu guru menyusun pertanyaan yang berkualitas, Nurwidodo menyarankan penggunaan prinsip Aristoteles dengan melakukan eksplorasi konsep secara menyeluruh dan menyusun peta konsep sebagai dasar pemetaan masalah.
Tidak hanya meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas, implementasi integrasi PM-STEM-PjBL juga dinilai mendukung pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Pendekatan ini dapat digunakan untuk mendeskripsikan proses implementasi pembelajaran sekaligus menganalisis peningkatan kemampuan peserta didik secara lebih terukur.
Melalui penyusunan modul ajar yang sistematis dan inovatif, pendekatan PM-STEM-PjBL diharapkan mampu menciptakan pembelajaran yang lebih efektif, kreatif, dan bermakna. Di akhir pemaparannya, Nurwidodo menegaskan bahwa tujuan utama dari integrasi pembelajaran tersebut adalah menjadikan peserta didik berkembang menjadi pribadi yang lebih baik, baik dari sisi pengetahuan, keterampilan, maupun karakter.