Dalam upaya memperkuat komitmen terhadap pengembangan pendidikan yang inklusif, berkeadilan, dan adaptif terhadap tantangan global, Universitas Muhammadiyah Malang melalui Program Studi Pendidikan Profesi Guru (PPG) menyelenggarakan Seminar Internasional bertajuk “Transformative Inclusion: Realizing Educational Justice in the Era of Global Polarization (5/5/2026).”

Kegiatan akademik berskala internasional ini menjadi ruang dialog ilmiah strategis yang mempertemukan para akademisi, praktisi pendidikan, pengambil kebijakan, serta mahasiswa pendidikan profesi guru dari berbagai institusi nasional dan internasional guna mendiskusikan isu-isu kontemporer terkait transformasi pendidikan inklusif di tengah kompleksitas polarisasi global. Seminar ini merupakan hasil kolaborasi antara Univestitas Muhammadiyah Malang, Universitas Sanata Dharma, dan Deakin University sebagai bagian dari penguatan jejaring akademik internasional dalam bidang pendidikan guru.

Kegiatan seminar diawali dengan laporan ketua panitia yang disampaikan oleh Prof. Dr. Sugiarti, M.Si., yang menegaskan bahwa seminar ini merupakan respons akademik atas tantangan pendidikan global yang semakin kompleks, terutama terkait kesenjangan akses pendidikan, dinamika sosial akibat polarisasi global, dan kebutuhan mendesak akan sistem pendidikan yang lebih inklusif serta transformatif. Menurutnya, seminar ini memiliki tiga tujuan utama, yaitu membedah konsep inklusi transformatif sebagai solusi atas ketimpangan akses pendidikan, menemukan titik temu di tengah polarisasi global agar pendidikan tetap menjadi ruang netral dan humanis, serta membangun jejaring kolaboratif lintas negara antara akademisi, praktisi, dan pengambil keputusan dalam bidang pendidikan. Kehadiran lebih dari 700 peserta secara hybrid, yang terdiri atas mahasiswa PPG, dosen, guru pamong, akademisi, serta peserta internasional, menunjukkan tingginya antusiasme terhadap isu pendidikan inklusif sebagai agenda bersama dalam pembangunan pendidikan masa depan.

Dalam sambutannya, pimpinan universitas menegaskan bahwa seminar internasional ini merupakan bagian dari langkah strategis UMM dalam mendukung internasionalisasi pendidikan menuju visi UMM 2030. Pendidikan inklusif dipandang bukan sekadar memberikan akses kepada semua peserta didik, melainkan memastikan kualitas, kebermaknaan, dan keberpihakan sistem pendidikan terhadap seluruh lapisan masyarakat. Pendidikan harus menjadi instrumen transformasi sosial yang mampu menciptakan keadilan, mengurangi kesenjangan, dan menjadi fondasi pembangunan bangsa. UMM menempatkan pendidikan inklusif sebagai bagian integral dari penguatan ekosistem akademik yang responsif terhadap perubahan global dan kebutuhan masyarakat multikultural.

Salah satu momentum penting dalam seminar ini adalah keynote speech dari jajaran Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia yang menyoroti arah kebijakan nasional dalam mewujudkan pendidikan inklusif. Dalam paparannya dijelaskan bahwa pemerintah mengusung visi “Pendidikan Bermutu untuk Semua” sebagai landasan utama transformasi sistem pendidikan nasional. Kebijakan pendidikan inklusif diarahkan untuk memastikan bahwa tidak ada satu pun peserta didik yang tertinggal, terlepas dari latar belakang sosial, ekonomi, geografis, maupun kondisi disabilitasnya. Pemerintah terus melakukan penguatan melalui peningkatan kapasitas guru, penyediaan sarana dan prasarana pendukung, adaptasi kurikulum, penguatan unit layanan disabilitas, serta pengembangan Guru Pendidikan Khusus (GPK) guna menjamin keberlangsungan layanan pendidikan inklusif yang berkualitas.

Lebih lanjut, pemaparan Prof.Dr. Nunuk Suryani,M.Pd Dirjen GTK Kemendikdasmen RI menekankan bahwa penguatan kompetensi guru melalui program Pendidikan Profesi Guru (PPG) merupakan salah satu strategi fundamental dalam mewujudkan pendidikan inklusif yang substantif. Program PPG dirancang untuk membentuk guru profesional yang tidak hanya menguasai aspek pedagogik dan profesionalitas akademik, tetapi juga memiliki sensitivitas sosial, kemampuan reflektif, serta kapasitas untuk merespons keberagaman kebutuhan peserta didik. Kurikulum PPG saat ini terus diperkuat melalui integrasi pembelajaran mendalam, pendidikan nilai, bimbingan konseling, serta insersi pendidikan inklusif agar calon guru memiliki kesiapan menghadapi realitas kelas yang semakin heterogen.

Seminar ini juga menghadirkan narasumber akademisi terkemuka dari berbagai institusi. Prof. Dr. Trisakti Handayani, M.M. dari Universitas Muhammadiyah Malang membahas transformasi kebijakan pendidikan menuju Sustainable Development Goals (SDGs) 2030. Dr. Juni Eben Heiser, Ph.D. dari Deakin University mengupas tantangan eksklusi dalam pendidikan dan pentingnya transformasi menuju inklusi substantif. Sementara itu, Dr. Tarsisius Sarkim, M.Ed., Ph.D. dari Universitas Sanata Dharma menyoroti ketimpangan pendidikan global, dampaknya terhadap kualitas pembelajaran, dan urgensi reformasi pendidikan berbasis keadilan sosial. Diskusi akademik yang berlangsung menegaskan bahwa pendidikan inklusif harus dipahami secara komprehensif, bukan sekadar menyediakan akses, tetapi memastikan keberhasilan belajar yang bermakna bagi seluruh peserta didik.

Secara konseptual, seminar ini menegaskan bahwa inklusi transformatif merupakan paradigma pendidikan yang melampaui pendekatan administratif menuju perubahan sistemik dalam tata kelola pendidikan. Pendidikan inklusif harus mampu menjadi medium rekonstruksi sosial yang menghapus berbagai hambatan struktural, kultural, dan pedagogis yang menghalangi peserta didik untuk berkembang secara optimal. Dalam konteks global yang ditandai oleh polarisasi sosial, ketimpangan akses teknologi, dan dinamika perubahan geopolitik, pendidikan dituntut untuk hadir sebagai ruang yang memanusiakan, memberdayakan, dan mempersiapkan generasi masa depan dengan kompetensi adaptif berbasis nilai-nilai keadilan.

Melalui penyelenggaraan seminar internasional ini, UMM menegaskan posisinya sebagai institusi pendidikan tinggi yang aktif mengambil peran dalam pengembangan wacana pendidikan global sekaligus memperkuat praktik pendidikan guru di Indonesia. Forum ini diharapkan melahirkan rekomendasi akademik, gagasan inovatif, serta kolaborasi berkelanjutan yang mampu memperkuat implementasi pendidikan inklusif di tingkat nasional maupun internasional. Seminar ini sekaligus menjadi bukti bahwa kolaborasi lintas institusi dan lintas negara merupakan prasyarat penting dalam membangun ekosistem pendidikan yang inklusif, berkeadilan, dan berorientasi pada masa depan.