Mahasiswa PPG FKIP UMM Suarakan Pentingnya Kesehatan Mental bagi Pendidikan

Mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG) prajabatan angkatan satu Universitas Muhammadiyah Malang menyuarakan pentingnya kesehatan mental bagi peserta didik. Ketua pelaksana, PPG prajabatan, Mahariska Anjar Palupi mengatakan kesehatan mental ini sangat penting bagi peserta didik demi optimalnya keberhasilan pendidikan khususnya sekolah dasar. “Kami ingin mengupayakan agar para orang tua memiliki kesadaran yang baik tentang pentingnya kesehatan mental peserta didik,” kata Mahariska, Senin (15/5/2023). Ia menambahkan, melalui optimalisasi kesadaran para orang tua terhadap kesehatan mental peserta didik ini sangat penting. “Diharapkan orang tua dapat sepenuhnya sadar bahwa kesehatan mental peserta didik menjadi landasan utama dari berbagai keberhasilan pendidikan dan prestasi,” ungkap Mahariska. Seminar PPG prajabatan angkatan satu ini melibatkan Kepala SDN Sumbersari 2 Kota Malang, Endang Sulistiyawati dan psikolog dari UMM yakni Uun Zulfiana. Selain seminar, dilakukan pula acara finger painting dan karya kolaborasi (Eco Pounding) bekerja sama dengan Muhammad Yusuf untuk meningkatkan kualitas hubungan dan komunikasi antara peserta didik dengan orang tua. Masih kata Mahariska, kesehatan mental juga untuk mempersiapkan kondisi terbaik anak sebagai peserta didik di sekolah dasar dan menekan angka gangguan kesehatan mental. “Adanya upaya ini diharapkan kesehatan mental peserta didik nantinya akan menjadi perhatian juga dalam dunia pendidikan untuk menciptakan ekosistem pendidikan yang berkualitas serta adanya peningkatan moralitas peserta didik,” jelasnya. Sementara itu, Uun Zulfiana menjelaskan, ada kenaikan jumlah anak mengalami gangguan kesehatan mental dari angka 12 juta menjadi 20 juta. “Dari 6,1 persen menjadi 9,8 persen penduduk Indonesia dengan usia dibawah 15 tahun mengalami gangguan kesehatan mental dan emosional. Sering terjadi pada anak dan remaja seperti, ADHD, Gangguan kecemasan, Gangguan perilaku bahkan bipolar disorder,” jelasnya. Menurut Uun, dalam kasus berkelanjutan didapati perilaku yang merugikan orang lain seperti Oppositional Defiant Disorder (ODD) kondisi ketika seorang anak menampilkan pola yang terus-menerus dari suasana hati yang marah atau mudah tersinggung. “Perilaku menantang atau argumentatif dan balas dendam terhadap orang. Perilaku bullying, Conduct Disorder (CD) dimana ini merupakan gangguan perilaku dan emosi serius yang membuat anak menunjukkan perilaku kekerasan, suka merusak benda tertentu dan cenderung sulit mengikuti aturan di sekolah maupun di rumah,” pungkasnya.
Jawab Kebutuhan Pendidikan, PPG UMM Kukuhkan 1.238 Guru

Sebanyak 1.238 mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi dikukuhkan pada Selasa (14/3). Mereka yang berasal dari berbagai daerah juga mengucapkan sumpah profesi guru serta mendapatkan bekal dari dua orasi ilmiah para pemateri. Keduanya adalah Direktur Jenderal (Dirjen) Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbudristek Prof Dr Nunuk Suryani MPd dan Direktur Eksekutif APCE UNESCO Prof Dr Ignasius D.A. Sutapa MSc. Menariknya, para mahasiswa dalam jabatan dan prajabatan PPG UMM juga menelurkan beberapa karya. Di antaranya 11 hak kekayaan intelektual dan 17 buku ber-ISBN yang berisi tentang pengalaman kreatif best practice selama ini. Pun berbagai prestasi lain dalam hal mengajar dan pendidikan. Nunur Suryani menilai, salah satu permasalahan pendidikan di Indonesia adalah kurangnya ketersediaan guru di Indonesia. Sebagian besar diakibatkan oleh banyaknya guru yang akan pensiun.“Di tahun 2022, data menunjukkan bahwa kekurangan guru di Indonesia sebanyak 781 ribu. Untuk mengatasi kekosongan atau kekurangan guru itu, caranya dengan melangsungkan seleksi ASN P3K,” katanya.Nunuk juga menjelaskan tentang isu strategis pembangunan pendidikan nasional yang harus diselesaikan. Utamanya terkait layanan pendidikan yang belum merata dan kualitas pendidikan yang masih rendah. Menurut data, ada 288 kecamatan di Indonesia yang tidak memiliki SMP dan 681 kecamatan yang tidak memiliki SMA. Sementara itu, kualitas pendidikan nyatanya dipengaruhi oleh kompetensi guru yang masih rendah dengan sebaran yang belum merata. Selain itu, tidak tersedianya metode penilaian hasil belajar yang ajek.“Ditambah lagi dengan daya saing perguruan tinggi Indonesia yang masih lemah berdasarkan publikasi, inovasi, dan juga sitasi. Tapi menariknya, saya lihat UMM tidak demikian. Bahkan UMM menjadi kampus yang memiliki kapasitas tinggi dalam tiga hal tadi,” tambahnya.Maka dari itu, Nunuk menilai Indonesia memerlukan transformasi baru untuk pendidikan Indonesia. Transformasi tersebut bukan hanya untuk calon guru. Namun juga untuk membuka mindset para guru yang ada sehingga bisa menjawab target Sustainable Development Goals (SDGs). Pada kesempatan yang sama, Ignasius menjelaskan mengenai peran penting FKIP dalam menyiapkan guru profesional di era digital. Menurutnya, pendidikan era digital ditandai dengan integrasi teknologi informasi dan komunikasi ke dalam penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran. Para siswa dan mengajar bisa dengan mudah mengakses sumber pengetahuan yang melimpah.Kemudahan ini juga memberikan tantangan tersendiri. Terutama kemampuan daya inovasi dan kolaborasi yang dapat mnejadi modal penting dalam memajukan lembaga pendidikan. Hingga akhirnya bisa menciptakan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas dan dapat bersaing secara global. “Cara pandang lama mengenai literasi dalam dunia pendidikan yaitu membaca, menulis, dan menghitung tidak lagi memadai saat ini. Para pendidik dan siswa didik harus memaknai literasi baru di era digital yang mencakup tiga hal, yakni literasi data, kemampuan membaca dan menganalisis menggunakan informasi di dunia digital, serta literasi teknologi,” tambah Ignasius.Dalam pengukuhan itu, ada empat mahasiswa berprestasi yang mendapatkan penghargaan. Keempatnya aktif di berbagai bidang seperti olahraga, MC, hingga menelurkan karya buku. Bahkan ada pula yang sukses memasukkan penelitiannya di jurnal Sinta 2. Terkait pengukuhan guru, Wakil Rektor I UMM Prof Dr Syamsul Arifin MSi berharap ribuan guru yang baru saja dikukuhkan mampu merespons tantangan kebutuhan zaman. Apalagi sudah ada banyak bekal yang telah diberikan, baik itu materi maupun metodologi yang bisa digunakan saat mendidik nanti. Ia juga berterima kasih kepada Kemendikbudristek yang telah memberikan kepercayaan pada UMM. Utamanya FKIP dalam upaya menyiapkan pendidik profesional masa depan. Sekaligus berkontribusi menyiapkan SDM yang unggul untuk memajukan bangsa Indonesia. Hal serupa disampaikan Dekan FKIP UMM Dr Trisakti Handayani MM. Salah satu permasalahan Indonesia saat ini ialah lemahnya SDM.“Maka perlu adanya guru kreatif, kritis, dan inovatif agar bisa melahirkan generasi penerus. Selain itu, skill kolaborasi untuk menghadapi zaman yang tidak pasti,” pungkasnya. (Wildan/AS)
Kuliah Umum PPG FKIP UMM, Dirjen Paud Dikdasmen Dorong Pendidik Mandiri dan Merdeka

Malang – Prodi Pendidikan Profesi Guru (PPG) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang menggelar agenda kuliah umum, (Rabu, 9/11/2022). Mengusung tema “Kebijakan Pendidikan Nasional Menuju Indonesia Emas”, hadir sebagai pembicara Dr. Iwan Syahril, Ph.D., Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah (Dirjen Paud Dikdasmen). Acara turut dihadiri oleh Rektor, Wakil Rektor I, Dekanat FKIP UMM, Kaprodi PPG, dan mahasiswa PPG FKIP UMM. Dalam paparannya, Dr. Iwan Syahril menegaskan Kembali filosofi Pendidikan Ki Hajar Dewantoro. Terlebih, kondisi Pendidikan Indonesia saat ini lemah dalam hal karsa atau kemauan. Menurutnya, dewasa ini pendidikan bangsa terlena untuk menajamkan pikiran peserta didik saja, namun lupa kemauan dan keinginan para siswa di sekolah. Dengan kata lain, aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik ini sayangnya tidak diimbangi dengan kemauan yang diinginkan peserta didik. “Pendidikan yang hanya menajamkan pikiran tetapi mengesampingkan kemauan anak didik adalah pendidikan yang hampa. Justru, pendidikan yang memperhatikan kemauan akan selalu berkembang sekalipun dalam kondisi sulit,” terangnya pada acara yang berlokasi di Dome Theater Universitas Muhammadiyah Malang. Karena itu, para peserta diajak untuk mengembalikan arah pendidikan pada filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara. Dalam filosofi Ki Hajar Dewantara terkandung amanah terhadap profesi guru ini. Ing Ngarso Sung Tuladha mengamanatkan seorang guru menjadi seorang pemimpin yang dapat diteladani di kelasnya. Ing Madya Mangun Karso mengamanatkan seorang pendidik untuk senantiasa menguatkan keyakinan dan membangkitakan semangat mencerdaskan bangsa. Adapun Tut Wuri Handayani mengamatkan pendidik agar dapat melejitkan potensi dan proses tumbuh kembang anak didik sehingga kemandirian bisa terbentuk dalam dirinya. Pendidikan holistik yang dicanangkan oleh Ki Hajar Dewantara terbagi menjadi empat aspek yaitu oleh cipta, olah rasa, olah karsa, dan olahraga. Cipta secara makna yakni menajamkan pikiran, rasa memiliki dan menghaluskan perasaan. Karsa untuk menguatkan kemauan dan keinginan dan olahraga bertujuan agar menyehatkan jasmani atau fisik. Adapun pada poin cipta, rasa, dan karsa menjadi poin dalam Budi, sedangkan raga masuk dalam poin Pekerti. “Jadi, filosofi Ki Hajar Dewantara ini berupaya menghasilkan lulusan pendidikan yang mandiri dan merdeka,” tandasnya. Selaras dengan itu, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. menuturkan jika guru memiliki tanggung jawab moral untuk menyiapkan generasi bangsa ketika berhadapan dengan bonus demografi. Oleh karena itu, guru harus memiliki kualifikasi yang baik atau professional. Sehingga, guru dapat mendidik dan mengembangkan kualitas anak bangsa. Guru punya tanggung jawab moral. Salah satunya dengan membekali anak didik dengan skill dan kualitas pendidikan yang baik. “Guru harus bisa memahami potensi tiap muridnya. Dari situlah nanti akan muncul bibit-bibit potensi yang mampu memajukan bangsa dan mewujudkan Indonesia emas 2045,” tutup Rektor UMM. Karena itu, UMM juga turut berkontribusi menyiapkan SDM mumpuni yang siap menghadapi kompetisi global melalui Center of Excellence (CoE). Saat ini, ada lebih dari 40 sekolah unggulan CoE yang tersebar di berbagai fakultas. Di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan ada lima sekolah unggulan yang sudah dilaksanakan yakni CoE konsultan pendidikan, media dan animasi pendidikan digital, english for hospitality, entrepreneur perbukuan dan sekolah wisata sejarah digital.
PPG UMM: Guru Faktor Utama Songsong Indonesia Emas 2045

Guru menjadi faktor penting dalam upaya menyukseskan Indonesia emas pada tahun 2045 nanti. Ditambah lagi dengan awal puncak bomus demografi yang akan terjadi pada 2030 mendatang. Itu ditegaskan Rektor Universitas Muhammadiyah malang (UMM) Dr. Fauzan, M.Pd. dalam Orientasi Akademik Program pendidikan profesi guru (PPG), Rabu (24/8) lalu. Fauzan mengajak peserta PPG untuk merenungkan siapa yang akan memegang kepemimpinan di 2030 nanti. Jawabanya ialah anak-anak didik yang kini sedang menimba ilmu di sekolah dasar. Maka, para guru dinilai mnejadi ujung tombak dalam upaya melahirkan generasi masa depan. Adapun mahasiswa PPG yang berkuliah di UMM berjumlah 661 mahasiswa. Terdiri dari bidang matematika sebanyak 34 orang, bahasa Indonesia 35 orang, PKN 35 orang, bahasa Inggris 70 orang serta 487 orang di bidang pendidikan guru sekolah dasar. Para peserta PPG juga berasal dari 106 kabupaten dan kota yang berbeda. Lebih lanjut, Fauzan juga ingin agar peserta PPG mampu memproyeksikan hal apa saja yang akan terjadi di masa depan. Salah satunya adalah lingkungan yang serba digital. Pun dengan pola komunikasi yang berbeda pula. Maka, tidak ada jalan lain selain mengupgrade diri agar bisa memberikan pengetahuan dan skill terkini kepada anak-anak didik. Terkait bonus demografi, Rektor asli Kediri tersebut menjelaskan bahwa jumlah usia produktif akan sangat tinggi dibandingkan yang tidak produktif pada 2045 nanti. Bahkan jumlah masyarakat dengan usia produktif akan mencapai 77,7 persen. Jika mampu memanfaatkannya, bukan tidak mungkin Indonesia bisa masuk di jajaran negara dengan perkembangan ekonomi raksasa. Pun sebaliknya, jika tidak bisa memaksimalkan bonus demografi, maka semua mimpi akan sirna dan sia-sia. “Sekali lagi saya tekankan bahwa pendidikan dan guru memiliki peran penting mewujudkan Indonesia emas 2045. Jadi, PPG tidak semata-mata hanya untuk administrasi maupun finansial saja. Namun yang lebih substansial adalah bagaimana guru mampu mendidik dengan baik anak-anak yang menjadi pemegang estafet selanjutnya,” tegasnya. Hal serupa juga ditegaskan Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMM Dr. Trisakti Handayani, M.M. Menurutnya, para peserta PPG UMM harus bersungguh-sungguh untuk melalui semua proses yang pendidikan. Apalagi ada sebanyak 1,4 juta guru yang masih harus menunggu giliran mengikuti PPG. “Saya yakin, jika saudara-saudara bisa bertahan dan serius melewati program pendidikan ini, maka predikat guru profesional otomatis akan melekat. Jangan sampai menyia-nyiakan kesempatan baik yang ada di depan mata. Semoga teman-teman bisa lulus dan menjadi guru panutan peserta didik,” harapnya mengakhiri. (wil) Sumber : https://www.umm.ac.id/id/berita/ppg-umm-guru-faktor-utama-songsong-indonesia-emas-2045.html
Menyelaraskan Kurikulum Pendidikan Bersama PPG UMM

Program Studi PPG FKIP UMM melaksanakan kuliah tamu secara online melalui platform zoom meeting. Dimoderatori oleh Fahdian Ramadani, kegiatan kuliah tamu berjalan dengan lancar dan diikuti kurang lebih seribu peserta. Kegiatan ini bertujuan untuk menyelaraskan adanya pembaharuan kurikulum pembelajaran (01/08). Iin Hindun selaku Kaprodi PPG menyampaikan kuliah tamu pada siang ini diikuti oleh peserta PPG prajabatan dan dalam jabatan, mahasiswa, dosen, dan pengelola. Kegiatan ini didasari dengan adanya pembaharuan kurikulum dari model pembelajaran sebelumnya. Berdiskusi bagaimana cara menggunakan kurikulum pembelajaran yang disesuaikan dengan permasalahan yang ada. Termasuk kemajuan teknologi, interaksi sosial, dan lain sebagainya. Supaya calon guru menjadi lebih profesional dan menginspirasi peserta didik. Dibuka oleh Trisakti Handayani selaku Dekan FKIP menuturkan bagaimana cara mengimplementasi dan menyusun strategi inovatif. Adanya kesempatan emas dengan pakar kurikulum dan desain pembelajaran dapat menjawab seluruh pertanyaan peserta. “Siap menghadapi perkembangan dan perubahan dinamika pendidikan, peserta PPG harus menyesuaikan dengan perubahan kebijakan nasional,” tuturnya. Agusti Tamrin, selaku dosen yang menyampaikan materi bertajuk Strategi Penyusunan Desain Pembelajaran Inovatif dalam Program Pendidikan Profesi Guru (PPG). Pokok materi berkutik pada pembelajaran PPG dan strategi desain pembelajaran PPG. Alur pelaksanaan pembelajaran PPG Dalam Jabatan terdapat pendalaman materi, pengembangan perangkat pembelajaran, dan praktik pengalaman lapangan. Materi kali ini berpacu pada kerangka acuan Ekologi dan filsafat pendidikan dan pengajaran dari Ki Hajar Dewantara “Benih bagus ditanam di lahan yang baik oleh petani yang baik dengan cara yang tepat,”. Hal tersebut bagaikan model PPG Indonesia untuk memberikan edukasi kepada calon guru untuk memberikan pengajaran yang baik kepada peserta didik. “Guru harus memiliki hubungan baik dengan ekosistem terkait untuk melahirkan benih yang bagus,” ujar Ketua Forum Perguruan Tinggi Penyelenggara PPG. Selanjutnya, Agusti Tamrin juga menyampaikan strategi pembelajaran PPG dengan digital media. Mengetahui literasi media juga diperlukan saat menerapkan pembelajaran inovasi revolusi industri 4.0 (Smart Manufacturing). Creativity, Communication, Collaboration, dan Critical Thinking harus disesuaikan dengan literasi data, teknologi, dan manusia. Demi menyesuaikan cara pembelajaran dengan generasi masa depan guru harus berkiprah pada dunia teknologi. “Teknologi tidak dapat menggantikan peran guru, namun guru yang tidak menguasai teknologi akan ditinggalkan oleh zaman,” ujarnya. Dinn Wahyudin selaku pemateri kedua, mengawali penyampaian dengan kutipan menginspirasi “Teladan yang baik adalah Khotbah yang jitu,” oleh K.H. Ahmad Dahlan. Hal tersebut tentu saja sesuai dengan guru yang menyampaikan edukasi kepada peserta didik yang ampuh dan jitu. “Jadikan komunikasi dan kolaborasi menjadi salah satu kemampuan peserta didik. Siswa dilatih untuk mengemukakan pendapat, menyuarakan ide dan gagasan yang sesuai dengan usianya,” ungkapnya. Selain itu, terdapat delapan indikator kinerja utama yang disampaikan dengan menarik yang disesuaikan dengan perumpamaan yang jelas. Dalam indikator tersebut terdapat beberapa poin penting yaitu kualitas lulusan yang baik, pembimbing yang berkualitas, dan kualitas kurikulum dan instruksi yang berlaku. Hal tersebut sangat berpengaruh pada nilai kemanusiaan, karakter, sikap dan perilaku peserta didik yang akan dikembangkan. Husna Laily, selaku peserta menanyakan terkait “Strategi cara penyesuaian terhadap seringnya perubahan kurikulum pembelajaran,”. Pertanyaan tersebut diajukan dan dijawab oleh Dinn Wahyudin, “Sebenarnya hal tersebut bukanlah perubahan, tetapi penyempurnaan. Adanya kurikulum baru hanya perlu diyakini sebagai formula terbaik sebagai inovasi bentuk pembelajaran yang terbaik. Bahkan pemerintah juga menawarkan untuk menerapkan kurikulum yang sesuai dengan kriteria sekolah,” jawabnya. Sumber: https://www.kompasiana.com/egistaka/62e7b46708a8b533d43c9e45/menyelaraskan-kurikulum-pendidikan-bersama-ppg-umm?page=all
PPG UMM Siap Wujudkan Generasi Emas 2045 Melalui Seleksi Guru

Pendidikan Profesi Guru (PPG) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berkomitmen melahirkan pendidik yang profesional. Salah satunya diwujudkan melalui penyelenggaraan tes substantif bagi para calon mahasiswa PPG seluruh Indonesia. Koordinator PPG UMM Trisakti Handayani menjelaskan, tes ini diperuntukkan bagi calon mahasiswa pra jabatan 2022. Pelaksanaannya dilakukan serentak bersamaan dengan 45 Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) di seluruh Indonesia, salah satunya UMM. Sementara itu, pengaturan dan ketentuan penerimaan dipegang langsung oleh pusat, dalam hal ini Ditjen Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Kemendikbud-ristek.“Dalam proses pembelajarannya nanti juga dilaksanakan oleh LPTK masing-masing, termasuk UMM. Total, ada 1.650 peserta yang mengikuti tes di Kampus Putih UMM dan menjadi salah satu yang terbanyak,” katanya. Trisakti mengungkapkan, ada tiga tes yang harus diikuti oleh calon mahasiswa. Hal ini diawali dengan tes administratif yang sudah dilakukan beberapa waktu lalu, kemudian mengikuti tes substantif. Jika berhasil lolos, mereka akan menginjak tes terakhir, yakni proses wawancara.Menurutnya, tes wawancara menjadi proses seleksi yang menentukan apakah calon mahasiswa benar-benar memiliki panggilan jiwa untuk menjadi seorang guru. Apalagi kini guru seringkali menjadi pilihan kesekian dan akhirnya hanya dikerjakan dengan asal-asalan. Padahal, pendidik menjadi satu faktor penting dalam membangun sebuah bangsa. Saat ini, kata dia, guru merupakan penentu masa depan sebuah bangsa. Jika pendidikannya baik, maka semakin besar pula peluang untuk mewujudkan generasi yang andal dan mampu bersaing. Bukan hanya di dalam negeri tetapi juga bersaing secara global. Selain itu juga sebagai upaya mewujudkan generasi emas Indonesia 2045. Saat ini, Kampus Putih UMM menjadi perguruan tinggi swasta (PTS) nomor satu yang menerima kuota PPG dari GTK Kemendikbud-ristek. Kampus ini juga masuk dalam tujuh besar perguruan tinggi dengan kuota mahasiswa PPG terbanyak. Kemudian persentase kelulusan juga cukup tinggi yakni selalu di atas 82 persen. Menurut Trisakti, terdapat tiga aspek penting yang menentukan seberapa banyak kuota yang akan didapatkan LPTK. Pertama, yakni seberapa bagus mutu dan kualitas LPTK terkait dan sejauh mana dapat menerapkan dan menghasilkan lulusan yang cakap. Kedua, komitmen penyelenggara dalam mencetak guru dengan empat kompetensi yaitu profesional, pedagogi, sosial, dan kepribadian. Kemudian yang terakhir ialah sarana dan prasarana. Dengan kata lain, terkait kesiapan LPTK dalam memberikan fasilitas yang mumpuni sehingga dapat mencetak guru dan pendidik yang profesional. “Dengan begitu, mewujudkan generasi emas Indonesia 2045 bukan hanya menjadi angan belaka tapi benar-benar akan terjadi,” ucapnya
PPG FKIP UMM Gelar Orientasi Mahasiswa PPG dan Launching HKI Kolaboratif

Malang—Program Studi Pendidikan Profesi Guru (PPG) Universitas Muhammadiyah Malang gelar Orientasi Akademik, Senin (18/7/2022) lalu. Digelar secara hybrid—daring melalui Zoom dan luring dari The Singhasari Hotel & Resort—kegiatan ini disertai dengan launching 16 produk 16 Hak Kekayaan Intelektual (HKI) kolaborasi dosen dan mahasiswa. Acara ini dihadiri oleh Rektor UMM, Koordinator Pokja Inovasi dan Transformasi Asesmen PPG, dan jajaran sivitas akademika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UMM. Ferry Maulana Putra, selaku Koordinator Pokja Inovasi dan Transformasi Asesmen PPG menyampaikan profil PPG dalam Jabatan. “Tujuan PPG dalam jabatan ini tentunya adalah menjadikan guru profesional yang cakap akan adanya transformasi perubahan model pembelajaran,” tegas Ferry. Dalam paparannya, Ferry juga mengulas tentang Standar Pendidikan Guru, Sistem Pendidikan Program PPG Dalam Jabatan, Tahapan Penyelenggaraan PPG Dalam Jabatan, Kerangka Utama Transformasi GTK, hingga Alur Pembelajaran PPG Dalam Jabatan. Di sisi lain, Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Dr Fauzan MPd menegaskan bahwa Pendidikan Profesi Guru (PPG) bukan sekadar mendapatkan sertifikat dan formalitas saja, tetapi menjadi kunci dalam upaya menyiapkan sumber daya manusia (SDM) berkualitas dalam menentukan masa depan Indonesia. Hal ini menjadi penting, utamanya dalam menyongsong bonus demografi yang dimulai pada 2030 nanti dan Indonesia emas di 2045 mendatang. “Saudara-saudara harus mampu memahami era di 20 tahun ke depan. Akan jadi seperti apa dunia kita nanti. Ini harus jadi bahan perenungan kita bersama sehingga kita mampu memberikan inovasi dan perubahan signifikan. Mau tidak mau kita juga harus berubah seiring perubahan zaman,” tegas Fauzan. Ia menegaskan bahwa program PPG ini harus bisa membentuk guru yang memiliki mindset bahwa pendidikan itu dinamis. Akan selalu berubah dan menyesuaikan dengan era yang ada. Menurutnya, investasi paling utama adalah investasi pendidikan karena kualitas SDM akan menentukan warna peradaban yang akan dicapai Indonesia. Tahun ini, PPG FKIP UMM menyelenggarakan program PPG dalam jabatan kategori I untuk 945 peserta. Dalam laporannya, Dr. Iin Hindun, M.Kes sebagai Kaprodi Program Profesi Guru menjelaskan bahwa dari jumlah tersebut, 875 mahasiswa adalah mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris, 35 mahasiswa adalah mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia, dan 35 mahasiswa adalah mahasiswa Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Menariknya, pada kegiatan orientasi ini, Prodi PPG FKIP UMM juga me-launching 16 Hak Kekayaan Intelektual (HKI) buah karya kolaborasi para mahasiswa dan dosen. Sederet HKI tersebut berupa poster, metode,serta lembar kerja peserta didik. Ini menjadi bukti PPG Kampus Putih untuk terus berinovasi dan mengembangkan para mahasiwanya.
10 Besar Penyelenggara PPG Nasional, PPG FKIP UMM Gelar Sumpah Profesi Bagi 2.143 Guru

Malang−Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang (FKIP UMM) mengukuhkan 2.143 peserta pendidikan profesi guru di aula GKB 4, Minggu (13/03/22). Usai diwisuda dan diambil sumpahnya, guru-guru profesional ini siap mengabdikan diri dalam mengantarkan generasi bangsa menjadi generasi unggul 2045. Pengukuhan dan pengambilan sumpah dilakukan Rektor UMM Dr Fauzan M.Pd yang diikuti seluruh peserta PPG daring maupun luring. Sebanyak 184 peserta mengikuti kegiatan secara luring dengan protokol Kesehatan ketat. Adapun sisanya mengikuti secara daring melalui platform Zoom. Sebelum laksanakan prosesi sumpah profesi, Rektor Universitas Muhammadiyah Malang, Dr. H. Fauzan, M.Pd., mengucapkan selamat atas keberhasilan para mahasiswa PPG dalam menempuh Pendidikan profesi guru. Ia berharap, bekal yang telah diperoleh di UMM bisa menjadi bekal dalam melakukan perubahan dalam dunia Pendidikan. “Mudah-mudahan capaian ini menjadi bukti kongkret yang akan bisa kita jadikan sebagai dasar utuk melakukan perubahan orientasi pendidikan di Indonesia ke arah yang lebih baik,” katanya. Fauzan menambahkan, saat ini Indonesia memasuki era bonus demografi karena anak-anak usia produktif jumlahnya jauh lebih besar daripada usia tidak produktif. Dunia Pendidikan harus menangkap ini sebagai sebuah peluang dalam menciptakan sumber daya manusia Indonesia yang unggul. Tentu ini hanya bisa terwujud melalui pembelajaran yang bermakna, dari guru-guru profesional yang kreatif, inovatif, dan visioner. “Keberadaan guru profesional memiliki posisi urgen dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045. Oleh karenanya, pemerintah memiliki kebijakan Pendidikan Profesi Guru ini yang pada prinsipnya menginginkan guru-guru professional yang memiliki tanggung jawab agar anak-anak bisa hidup di masanya,” tandas Fauzan. Kegiatan ini pun mendapatkan apresiasi dari Dirjen GTK Kemendikbud Ristek, Dr. Iwan Syahril, PhD. “Apresiasi tinggi kepada civitas akademika UMM yang telah memfasilitasi dan memastikan para calon pendidik Indonesia mendapat yang terbaik dalam bidang keilmuan. Semoga selanjutnya UMM akan terus menghadirkan calon-calon pendidik masa depan yang mempunyai semangat dan daya juang dalam menjalani profesi mereka. Mari kita terus bergotong-royong dalam memajukan Pendidikan di Indonesia,” ungkapnya. Harus Ikuti Pembelajaran Daring Penuh dan UKM-PPG Untuk bisa dinyatakan sebagai pendidik professional, para mahasiswa PPG harus melalui perjuangan panjang. Dekan FKIP UMM, Dr. Trisakti Handayani, M.M mengatakan sebelum dinyatakan lulus, peserta PPG daljab dan prajab telah menempuh pendidikan selama 3 bulan PPG untuk daljab dan 1 tahun (2 semester) untuk prajab. Mereka harus menempuh pembelajaran selama tiga bulan untuk PPG Dalam Jabatan (PPG Daljab) dan satu tahun untuk PPG Prajabatan (PPG Prajab) yang dilaksanakan secara daring penuh. “Di sini, mahasiswa mengikuti lima tahapan pembelajaran, yakni pendalaman materi profesional dan pedagogik, analisis materi ajar, penyusunan perangkat pembelajaran, dan praktik pengalaman lapang di sekolah asal masing-masing,” ungkap Trisakti. Setelah memenuhi kelima tahapan itu, mahasiswa harus mengikuti Uji Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Guru (UKM-PPG). Ada dua bentuk ujian ini, yakni Uji Pengetahuan (UP) dan Uji Kinerja (UKin). Dalam UP, mahasiswa diuji secara teoretis melalui soal-soal tertulis pada konten pedagodi, professional, dan kepribadian. Sementara itu, dalam UKin, mahasiswa diuji praktik mengajarnya melalui dokumen RPP, video praktik mengajar, dan portofolio kegiatan penunjang profesi. Mahasiswa dinyatakan lulus dan berhak mendapatkan sertifikat pendidik bila memenuhi passing grade 70. Pada akhirnya, Trisakti berharap para lulusan dapat mengimplementasikan ilmu yang telah diperolehnya dengan melaksanakan pembelajaran abad 21, pembelajaran HOTs (Higher Order Thinking Skills), TPACK (Technological Pedagogical Content Knowledge), dan IBA (Inquiry Based Activities). “Guru harus bisa mengintegrasikan kemampuan literasi, kecakapan pengetahuan, keterampilan, dan sikap, serta penguasaan teknologi,” pungkas dekan FKIP yang juga menjadi koordinator Program PPG UMM ini. 10 Besar Tingkat Nasional Seperti tahun sebelumnya, Prodi PPG FKIP UMM mendulang prestasi. PPG UMM masuk ke dalam 10 besar LPTK dengan jumlah mahasiswa terbanyak, tepatnya pada peringkat sembilan. Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Kemenristekdikti mempercayakan 1.965 mahasiswa yang terbagi dalam emepat tahap. Adapun Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Kementerian Agama mempercayakan 300 mahasiswa yang terbagi dalam dua gelombang. Dari jumlah tersebut, ditambahkan dengan retaker (mahasiswa mengikuti ujian ulang), tercatatat 2.143 mahasiswa PPG Daljab dan PPG Prajab dari dua kementerian yang berasal dari 30 provinsi dan 285 kabupaten/kota itu dinyatakan lulus dan berhak mendapatkan sertifikat pendidik. Mereka berasal dari berbagai bidang studi, yakni PGSD (10 mahasiswa PPG Prajab, 1.655 mahasiswa PPG Daljab Kemdikbudristek), Pendidikan Matematika (6 Mahasiswa), Pendidikan Bahasa Indonesia (7 Mahasiswa PPG Daljab Kemendikburristek dan 44 mahasiswa PPG Daljab Kemenag), Pendidikan Bahasa Inggris (75 Mahasiswa PPG Daljab Kemendikbudristek dan 153 PPG Daljab Kemenag), PPKn (27 mahasiswa PPG Daljab Kemendikbudristek), Agribisnis Produksi Tanaman (52 Mahasiswa PPG Daljab Kemendikbudristek), Perikanan (55 Mahasiswa PPG Daljab Kemendikbudristek), dan Keperawatan (59 Mahasiswa PPG Daljab Kemendikbudristek). (*fid)
Mahasiswa PPG UMM Menangi Lomba Video Pembelajaran Nasional

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menorehkan prestasi. Kali ini kemenangan datang dari Intan Tristanti, mahasiswa prodi Pendidikan Profesi Guru (PPG) Prajabatan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pedidikan (FKIP). Ia berhasil meraih juara satu lomba video pembelajaran tingkat nasional. Adapun kompetisi tersebut diadakan oleh Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) yang diselenggarakan sejak Mei hingga Juni 2021. Sebelum akhirnya memutuskan untuk mengikuti lomba, Intan sempat mengalami dilema mengingat agenda tersebut merupakan kesempatan pertama baginya mengikuti kompetisi semcam ini. Ia merasa tidak percaya diri dengan video yang akan dibuat. Namun berkat dukungan berbagai pihak, ia akhirnya memberanikan diri dan nekat untuk bersaing dengan peserta lainnya. Hingga akhirnya ia berhasil dan menyabet juara dengan bangga. Mahasiswa kelahiran Blitar ini menjelaskan bahwa tema yang ia angkat dalam videonya adalah wawancara dan lingkungan. Dalam video itu, ia menerangkan bagaimana melakukan wawancara yang baik dan benar. Tidak hanya sekadar wawancara, tapi juga cara berkomunikasi dengan masyarakat sosial lain. Terutama mereka yang berada di lingkup lingkungan terdekat. “Saya juga menjelaskan materi terkait hubungan antara manusia dan lingkungan karena tidak jarang kita melupakan hal itu,” tuturnya. Ia kembali menambahkan bahwa ia juga mencantumkan hasil pembelajaran peserta didik. Hal ini tidak lepas dari syarat kelengkapan video yang harus dipenuhi oleh para peserta. Pencantuman hasil pembelajaran peserta didik ini juga menjadi salah satu faktor kemenangan yang akhirnya Intan peroleh. “Sejauh yang saya tahu, ada beberapa peserta yang mungkin tidak sempat menyertakan persyaratan tersebut sehingga mengurangi nilai. Alhamdulillah sudah saya cantumkan di video yang saya kirimkan,” ungkapnya. Setelah meraih juara, ia berharap proses pembelajaran daring kedepannya bisa lebih kreatif dan inovatif. Salah satunya bisa menggunakan video pembelajaran yang edukatif. Pun dengan tugas yang berbentuk praktek agar mampu menggali potensi yang dimiliki oleh tiap siswa. Intan juga berharap agar para calon guru baru untuk tidak mudah menyerah dan lelah untuk belajar hal baru. “Selalu percaya pada kemampuan diri sendiri. Hal itu tidak lepas dari peran guru yang nantinya dituntut serba bisa dalam mendidik calon penerus bangsa,” pungkasnya dalam sesi wawancara. (haq/wil)
Luncurkan 22 Buku, PPG UMM Ajak Guru Produktif Menulis

ARINA Restian, S.Pd., M.Pd., penanggung jawab PPG menjelaskan, program menulis bagi mahasiswa yang diadakan Prodi PPG bertujuan untuk melengkapi kemampuan para wisudawan, utamanya dalam hal menulis. “Seyogyanya setiap pengajar profesional dapat menulis dengan baik hingga mampu mencetuskan sebuah karya. Sebab tidak banyak pendidik yang memiliki skill ini. Padahal menulis merupakan hal yang penting bagi mereka,” katanya. Arina menambahkan, inisiatif program menulis tersebut berawal dari idenya yang ingin agar guru profesional juga bisa menelurkan karya. “Saya ingin mengajak dan mendorong seluruh elemen pengajar profesional agar mampu menulis dan menjadi contoh bagi anak-anak didiknya,” ungkapnya. Sebanyak 22 buku memiliki berbagai tema yang sudah ditentukan. Ada yang berisi tentang pengembangan media pembelajaran, ada yang membahas penguatan karakter serta pendidikan karakter di Indonesia. Meski begitu Ariana akui komitmen menulis menjadi kendala dalam penyusunan buku-buku tersebut. “Tentu saja semua agenda menemui kendala. Begitu pun dengan penyusunan karya-karya ini. Namun jika kita memiliki komitmen yang kuat, kendala-kendala yang ada akan lebih mudah dihadapi,” akunya. Sementara itu, salah satu penulis buku, Nanang Fauzi mengatakan, program ini bisa menjadi nilai positif, khususnya bagi para wisudawan. Ia juga menemui berbagai kendala saat mulai menulis buku. Salah satunya adalah masalah referensi. “Saat itu karya yang saya tulis membutuhkan satu referensi penting. Namun sangat susah untuk mendapatkannya. Akhirnya saya mencari alternatif lain. Selain agar tulisan saya selesai, juga untuk menghindari rasa malas yang sering mampir,” ceritanya. Nanang ingin agar buku-buku yang sudah dilaunching dapat memberikan manfaat lebih bagi para pembaca, khususnya bagi para pengajar. Usai dibaca, ide-ide yang tersemat di buku juga bisa diadopsi dan diterapkan dalam proses belajar-mengajar. Selain itu ia juga berharap karya tersebut mampu menjadi pelecut agar para pendidik lebih semangat dalam menulis dan menerbitkan buku. (div/mat)